Print Friendly and PDF
Showing posts with label Benang. Show all posts
Showing posts with label Benang. Show all posts

Rumus Konversi Ukuran Benang

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, benang merupakan bahan baku pembuatan handuk. Jenis-jenis benang yang telah kita bahas sebelumya memiliki ukuran seperti untuk jenis benang Cotton, TR, TC, CVC, Rayon, Acrylic, Spun ( PE ) memiliki satuan ukuran benang  S ( spining  / putaran ) seperti yang tertera pada kardus atau pada kones benang yaitu 45S, 40S, 32S, 30S, 28S, 20S, 16S, 14S, dan seterusnya. Semakin besar ukuran benang semakin kecil ukuran benang sebenarnya ( diameter benang ).
Selain jenis benang diatas, ada juga jenis benang seperti , Polyester, Filament, Nylon, Viscos, Lurex, Spandex dll, Untuk jenis benang yang ini ukuran benang yang digunakan adalah dengan ukuran kehalusan serat atau satuan Dennier ( D ). Yang tertera pada cones antara lain : 100 D, 120 D, 300 D. Semakin besar ukuran benang maka semakin besar pula benang yang digunakan ( ukuran diameter benangnya ).
Untuk mengubah atau meng-konversi dari satuan D ke satuan S atau sebaliknya, berikut saya sajikan rumus untuk meng-konversi satuan ukuran benang tersebut :

Dari Dennier ( D ) ke S ( spining )

Ne1 = 5.315,7 / Ne Dinier

Contoh :
Benang Polyester 300 D = berapa S ?

Jawaban :
300 D = 5315,7/300
300 D = 17,719 S 

Dari S ( spining ) ke Dennier ( D ) 

Ne1 = 5.315,7 / Ne S

Contoh :
Benang Cotton 20 S = berapa D ?

Jawaban :
Cotton 20 S = 5315,7/20
Cotton 20 S = 265,785 D 



Demikian saya sampaikan, semoga ada guna dan manfaatnya.



Sumber Gambar :
gsumariyono.wordpress.com


Pabrik Pemintalan

Pabrik tempat benang diproduksi atau lebih kita kenal dengan pabrik pemintalan yang disingkat PATAL adalah merupakan tempat proses pengolahan dimana kapas atau serat lain sebagai bahan baku benang disejajarkan seratnya satu sama lain dan dibentuk menjadi ukuran sesuai keinginan kemudian diberi pilinan/spin agar serat-seratnya menyatu dan tidak terlepas. Adapun proses pembuatan benang itu sendiri menggunakan mesin-mesin yang memiliki fungsi yang berbeda mulai dari bahan baku, hingga menjadi benang siap pakai/siap jual. Mesin-mesin tersebut antara lain :


1. Mesin Blowing

gambar : feriyulinanto wordpress
Pada mesin ini, bahan baku diolah dari serat mentah menjadi serat tunggal dan melepaskan serat atau benda-benda asing, simpul-simpul kusut serta gumpalan-gumpalan serat yang kusut dan pendek. Pada mesin ini pula, formulasi bahan baku diramu sesuai mutu benang yang diharapkan. Hasil akhir dari proses di mesin blowing ini menghasilkan lembaran serat yang berbentuk silinder /lap yang rata. 



2. Mesin Carding
gambar : machine-cotton.missouri.edu
Pada mesin ini serat dibersihkan, diurai serta dipisahkan mejadi serat panjang dan serat pendek, lap dari mesin blowing, nantinya akan berubah menjadi sliver









3. Mesin Combing
gambar : hubpages.com
Mesin sisir digunakan untuk menghilangkan serat-serat pendek dalam ikatan serat (sliver), meluruskan serat-serat panjang dan mensejajarkannya, dan menghilangkan nep dan abu. Namun dengan pertimbangan biaya produksi, tidak semua serat sliver melalui mesin ini. Benang yang melalui mesin ini disebut benang Combed, sedang yang hanya melalui mesin carding saja, dinamakan benang Carded.





4. Mesin Drawing
gambar : alibaba.com
Pada mesin ini sliver dari mesin carding dan mesin combing digandakan, ditarik dan diregangkan agar menjadi lebih rata. Penggandaan itu sendiri adalah merangkapkan 2 atau lebih sliver menjadi satu untai untuk mengurangi ketidak rataan sliver. Penarikan adalah menarik ikatan serat tebal menjadi kecil dengan menggunakan dua pasang rol yang mempunyai kecepatan yang berbeda.






5. Mesin Roving
gambar : oerlikontextile.com
Sliver dari mesin drawing masin terlalu tebal untuk langsung dimasukan ke mesin pemintalan, di mesin roving ini, sliver diperkecil hingga mencapai yang sesuai untuk dipintal. Sliver tadi dipilin untuk memberikan kekuatan / strength yang dikehendaki, kemudian digulung menjadi roving.








6. Mesin Pintal/Spinning
gambar : rieter.com
Pada mesin ini, roving ditarik menjadi ukuran yang  diharapkan dan diberi pilinan (Twist) biasanya ukuran pilinan itu dinyatakan dengan TPI / Twist Per Inch yang artinya jumlah pilinan per 1 inch benang. Pilinan itu sendiri berfungsi untuk memberikan kekuatan atau strength yang diinginkan. Dari mesin pintal ini, kita bisa lihat hasilnya berupa benang pintal.






7. Mesin Winding
gambar : shutterstock.com
Benang pintal dari mesin pintal/spinning ini akan berupa benang yang digulung pada bobin-bobin, dan untuk membuat benang tadi siap pakai, maka akan di gulung kembali ke media berupa cone yang diproses di mesin winding. Proses winding ini juga berguna untuk membuang benang-benang yang tidak kuat dan tidak rata.


Jenis dan Ukuran Benang

gambar : kaskus.co.id
Kembali ke masalah handuk, seperti yang pernah saya tulis di post sebelumnya bahawa handuk yang kita gunakan sehari-hari adalah berbahan dasar benang yang ditenun sedemikian rupa sehingga menjadi benda yang berguna mengeringkan badan setelah mandi. Handuk yang bagus akan terbuat dari bahan serat alami atau benang Cotton 100% sehingga daya serap serta kelembutan handuk menjadi maksimal.
Selain benang dengan serat alami yaitu cotton, terdapat pula jenis-jenis benang yang saat ini diproduksi oleh Pabrik Pemintalan atau disingkat PATAL, antara lain :



  1. TR, T berarti jenis benang ini memiliki unsur sintetis berupa polyester kurang lebih 65% dan R berarti rayon sebanyak 35 %. Sebagai keterangan, huruf yang berada diawal jenis benang menunjukkan komposisi yang lebih besar dari huruf yang dibelakangnya
  2. TC, unsur polyester yang dikandung didalam jenis benang ini adalah kurang lebih 65% dan sisanya adalah cotton yaitu 35%
  3. CVC, sejenis dengan TC hanya kandungan cotton lebih banyak yaitu 55% sedang polyester 45%
  4. Rayon, sejenis benang yang berbahan dasar serat kulit kayu yang diolah menjadi benang
  5. Acrylic
  6. Spun / PE
untuk jenis-jenis benang diatas biasanya memakai satuan penyebut S misalnya 20s, 30s, 40s dll. Satuan penyebut ini menunjukkan ukuran benang yang diambil dari kata Spinning (pilinan/putaran) contoh 20s berarti benang tersebut diputar sebanyak 20 putaran, 40s artinya diputar sebanyak 40 putaran sehingga secara pisik, benang dengan putaran 40 akan lebih kecil diameternya dibanding dengan benang yang diputar sebanyak 20 putaran, sehingga dapat diambil kesimpulan, benang dengan ukuran 40s akan lebih kecil daripada 20s.


Selain jenis benang diatas, dikenal jenis benang lain diantaranya;
  1. Polyester 
  2. Filament 
  3. Nylon 
  4. Viscos 
  5. Lurex, dan 
  6. Spandex
untuk satuan penyebutnya, menggunakan satuan Dennier (D) misalkan 20D, 40D, 70D, 150D dll berbeda dengan benang yang berstuan S, benang yang bersatuan D, semakin besar satuan maka secara fisik akan lebih besar diameternya. Dapat disimpulkan benang dengan ukuran 150D akan lebih besar dari benang 75D.