Print Friendly and PDF

Pilih Saputangan atau Tissue Kertas ?

Kita semua telah mengetahui bahwa sapu tangan digunakan sebagai sarana untuk membersihkan diri dengan cara diusapkan. Sapu tangan dibuat dari kain halus berukuran kecil sekitar 30 x 30 cm atau ukuran sekitar itu lainnya. Sapu tangan yang umum dibuat dari kain katun, flannel atau kain handuk. Bahan yang digunakan hendaknya dapat menyerap air jika digunakan. Sapu tangan digunakan untuk menyeka keringat di muka atau telapak tangan ataupun fungsi lainnya seperti untuk menyeka air mata saat menangis atau sebagai penutup mulut dan hidung supaya tidak kena debu atau mencegah bau yang tidak enak.

image : talkmen.com
Saputangan sebenarnya sudah disebut-sebut dalam syair karya Catulus (85-87 SM). Tidak seperti saat ini, alat pengusap keringat kala itu terbuat dari jalinan rumput. Memasuki abad pertama sebelum masehi, barulah saputangan terbuat dari kain linen. Meski sederhana, hanya golongan masyarakat kelas atas yang sanggup memilikinya. Itu sebabnya saputangan diperlakukan dengan sangat istimewa dan untuk pemakaianya yang ekslusif. 

Namun saat ini keberadaan saputangan perlahan terlindas tissue kertas yang praktis dan lebih higienis. Fungsi sapu tangan kemudian mulai banyak digantikan dengan pemilihan kertas tissue. Kertas tissue ini tersedia dalam produk siap pakai untuk digunakan secara sekali pakai dan langsung dibuang (bersifat disposable). Pengguna dapat membuang kertas tissue segera setelah digunakan, sehingga kertas tissue yang kotor dan diduga mengandung mikroorganisme dapat langsung dibuang.

Menurut sejarahnya tissue pertama kali digunakan di Jepang pada abad ke-17. Di masa itu orang Jepang menggunakan semacam kertas halus untuk menutup dan membersihkan hidungnya saat bersin, kemudian langsung dibuang. Kertas halus itu disebut “washi” atau Japanese Tissue. Tissue wajah pertama kali dipopulerkan di Amerika Serikat pada tahun 1942. Tissue ini awalnya digunakan untuk perlengkapan tata rias Hollywood. Tissue dipakai untuk membersihkan krim dingin sebagai bagian alat rias wajah dari wajah pemain teater kala itu. Tissue wajah memiliki bahan yang ringan dan lembut dibanding dengan tissue lainnya, dengan berat 14-18 g/m2, dan setiap helainya terdiri dari 2-3 lapisan ringan.

Berbeda dengan tissue kertas, saputangan dirasa tidak praktis padahal apabila dilihat dari ramah atau tidaknya pada lingkungan,
image : iqmaltahir.files.wordpress.com
maka sebenarnya saputangan lebih ramah lingkungan karena dapat digunakan berkali-kali, bila sudah kotor bisa dicuci, dikeringkan, disetrika, dan dipakai kembali. Sebaliknya tissue kertas yang digadang-gadang ramah lingkungan ternyata sangat mengancam keberadaan hutan.

Tissue mulai dibuat sekitar tahun 1880 - an dari bahan baku kulit kayu yang dijadikan pulp ( bubur kertas ) dan sampai sekarang pun bahan baku dalam pembuatan tissue masih menggunakan kayu. Kayu yang didapat pastinya dari hasil penebangan pohon - pohon di hutan. Biasanya tissue di Indonesia menggunakan bahan baku dari pohon. Dalam 1 pack tissue terdapat 20 sheet, dan ternyata dari 1 pohon berumur 6 tahun hanya bisa menghasilkan 2 pack tissue saja, 40 sheet lah jadinya. berarti dalam 4 hari saja kita sudah menghabiskan 1 pohon. Sehingga penggunaan tissue yang berlebihan sama artinya dengan kita ikut mendukung kerusakan hutan.




No comments: